DKPP Tangsel Tambah Lahan TPA Cipeucang 2 Ha Tahun 2015

Teropong Post, Tangsel, – Dalam acara pisah sambut Sekretaris DKPP dari Abdul Azis kepada Ir.Lisherni. Rabu,11/2/2015 sempat menjadi agenda kerja DKPP Pemkot Tangsel 2014 yang masih belum terselesaikan. Penanganan sampah khususnya di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), masih saja menuai keluhan dan kritik dari masyarakat tentang menumpuk dan banyak berceceran sampah-sampah rumah tangga akibat masih kurang kesadaran masyakat untuk membuang sampah pada tempatnya.

Kendala lainnya bagi DKPP Pemkot Tangsel dalam pengadaan lahan TPSS (Tempat Pembuangan Sampah Sementara) di tiap Kelurahan. Kepedulian dan Kesadaran masyarakat Tangsel dalam menyikapi problem sampah diharapkan harus sejalan dengan program pemerintah. Banyaknya hunian kontrakan dan pemukiman penduduk non cluster, diharapkan pengembang perumahan menyiapkan TPSS di terdekat dengan pemukiman dan DKPP dapat mengangkut sampah dari TPSS ke TPA.

Kerjasama yang baik antara pemukiman warga non cluster dengan kepedulian dan kesadaran masyarakat sehingga wajah kota Tangsel yang bersih dan indah. Dan sebaliknya bila banyak sampah rumah tangga yang tidak tertampung, warga akhirnya diam-diam membuang sampah di sembarang tempat.
Masalah penanganan sampah ini memang bukan hal mudah karena berkaitan dengan kesadaran, kepedulian dari masyarakat itu sendiri sehingga masyakat tidak menjadikan masalah sampah menjadi tugas pemerintah dalam hal ini DKPP. Tanpa ada peran serta akan sulit menciptakan kota yang bersih dan indah.
Dalam sambutannya di acara safari pembangunan beberapa bulan yang lalu, Walikota Tangsel , bahkan sempat mengeluhkan sulitnya membayar lahan di Cipeucang karena ada beberapa warga mengaku tidak menerima sosialisasi pembebasan Lahan Cipeucang untuk TPA Sampah ,dan lagi warga itu tidak setuju dengan harga yang di tetapkan pemkot sesuai kajian Appraisal.

Yepi Suherman Kabid Kebersihan DKPP (Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman ) Kota Tangsel , menerangkan permasalahan lahan Cipeucang itu, soal warga yang ,menolak tersebut memang sudah di mediasi, dan menurut beberapa sumber telah diketahui mereka tidak keberatan tanahnya di ambil Pemkot untuk TPA ( Tempat Pembuangan Akhir ) Sampah dengan syarat mereka di beri ganti tanah kembali yang berasal dari aset Pemkot.

Bantahan Yepi ini adalah hal yang sudah masuk perencanan anggaran Pemkot Tangsel dalam pengadaan lahan TPA Cipeucang pertengahan tahun 2015, tetapi rencana Pemkot Tangsel bukan di lahan warga yang menolak itu, tapi penolakan TPA Cipeucang berdasarkan investigasi Tim Teropong Post bukan dari warga di sekitar lahan TPA. Penolakan ternyata terjadi oleh warga atau pengembang perumahan di sekitar lahan TPA Cipeucang. Tentu saja, penolakan ini menghambat program Pemkot Tangsel dalam mengatasi problematika sampah yang menjadi dilema besar.

“Warga tersebut boleh saja bertahan pada keinginannya, lahan itu tidak bisa dibangun apapun, karena sudah keluar surat penetapan tanah tersebut hanya di peruntukkan untuk TPA Sampah“ Tegas Yepi.

Selanjutnya Yepi menerangkan bahwa “Bila warga itu menerima mekanisme ruislag (Tukar guling, red), yang pasti luas tanah yang akan dimilikinya nanti sesuai dengan harga tanah yang dimiliki saat ini ”. .(MUL, MUS, HANS)