Gelar Seminar Nasional FISIP UMJ ajak mahasiswa hadapi tantangan di Era Digital

Teropongpost, Cirendeu, – Rabu, 2 Mei 2018. Bertepatan pada Hardiknas FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta mengadakan Seminar Nasional bertajuk “Landscape Komunikasi di Era Digital”, yang bertempat di Aula gedung FISIP UMJ. Tentunya menarik bagi para mahasiswa khususnya Prodi Ilmu Komunikasi, terbukti sekitar 400 peserta hadiri acara tersebut.

Dengan keynote speaker yang tak perlu diragukan lagi dalam bidangnya masing-masing, seperti di Bidang Public Relation ada Rizki Wisnoentoro ( Bank Syariah Mandiri ), Budi Rizanto Binol ( Client Service Director Ad Ogilvy ), serta Tria Patrianti ( akademisi Bidang Public Relation ). Dari Bidang Advertising sendiri ada Didit Indra ( Creative and Product Development), Octaviana Purnamasari ( akademisi Bidang Periklanan). Serta di Bidang Penyiaran ada Gaib Maruto Sigit ( Pimpinan Radio MNC Network ), Endah Saptarini ( Deputi Chief Editor SCTV dan Indosiar ), serta Amin Sabana , M.Si ( akademisi Bidang Penyiaran ).

Acara tersebut dibuka langsung oleh Rektor UMJ Bapak Prof.Dr. Syaiful Bakhri, di dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa, Hari pendidikan adalah sebuah revolusi besar, karena pada masa jaman kolonial kita terbelenggu dalam kebodohan, membangun peradaban pendidikan. Muhammadiyah ikut serta di dalamnnya. Pendidikan bagi muhammadiyah adalah satu kesatuan yang tak bisa di pisahkan.

“Aspek lain dari sebuah kemajuan adalah kejahatan yang bisa saja muncul dari sebuah media. Perang proksi adalah peperangan yang bukan lagi dengan senjata-senjata. Perkembangan ilmu yang cepat ini dapat menjadi sebuah pilar-pilar untuk mengarahkan ilmu pengetahuan. Tugas penting prodi komunikasi dalam era digitalisasi dan industri. Filososfi prodi komunikasi sebagai pintu awal untuk memperkenalkan bahwa komunikasi bukanlah alat dan publik speaking”, ujar beliau.

Senada dengan itu Ibu Endang sulastri sebagai Dekan FISIP UMJ mengatakan sekarang ini teknologi menjadi perkembangan yang penting dan merubah aspek-aspek hubungan internasional, perkembangan komunikasi saat ini sudah memasuki era ke 4, maka di dalam konsteks komunikasi sudah tidak ada batas. Dan pada prinsipnya adalah satu, Belajar dimana saja.

“Pergerakan teknologi komunikasi memberikan peluang kepada banyak orang dan banyak pihak seperti revolusi industri era ke 4 itu sendiri. E-goverment, e-comercil dll. Menjadikan proses industri dalam konteks era digital menjadi hal yang menarik. Konten-konten yang menariklah yang dapat memenangkan industri tersebut”, pungkasnya.

Dalam sesi pertama pembahasan tentang Public Relation, Rizki Wisnoentoro mengatakan, Penggunaan media Digitalytation sudah mencapai 137,7 penetrasi 50% ( pengguna internet sudah mulai banyak dan kurang lebih 8 jam aktif di sosial media ). Dengan tuntutan head to head dengan perbankan convensional dan Kebutuhan lebih luas untuk merangkul masyarakat menggunakan digital. Namun Digitalytation muslim di indonesia tidak mengikuti syariah. Mau tidak mau pola yang digunakan adalah dengan cara memberikan tawaran untuk mencoba. Mandiri membuat sebuah program Aisyah chat what. Yaitu Digital di BSM, Machine learning, serta Penambahan kapasitas mobile banking. Singkatnya, Fungsi komunikasi dalam BSM sangat luas yaitu farkom markom dan financial.

Sementara itu Budi Rizanto Binol didalam bahasannya menyebut bahwa “Public relation is dead”, menjadi hal yang menarik bagi para peserta disitulah terjadi tanya jawab mengapa beliau mengatakan hal itu. “dengan penuh pertimbangan saya ambil judul tersebut berdasarkan referensi buku dan agar menarik minat peserta. Menurut saya mata kuliah di kampus sangatlah basic, sehingga dengan begitulah basic sangat mendasar. Salah satu alasan mereka adalah dengan tidak mau berhitung”, jelasnya.

Tria Patrianti sendiri mengatakan, Ujung dari semua upaya komunikasi adalah untuk mencapai trust dan reputasi. Mengenal PR hanyalah sebuah tools atau alat. Sebagai tools seorang PR membuat acara dan user. Dan membuat sebuah batasan ( sience dan akademisi ). “Pr challenge academically, berkontribusi membawa perubahan yang positif, PR adalah agent of change ( PR sebagai pondasi dalam konteks komunikasi )”, ujarnya

Dalam sesi kedua pembahasan tentang Advertising, Didit Indra menjelaskan Bahwasanya digital itu bukan ide tapi hanya sekedar channel, dengan begitu yang paling penting adalah pemanfaatan channel. “Kita harus lebih kreatif untuk memunculkan ide-ide yang menarik dalam membuat iklan, banyak cara untuk itu seperti Kenali produknya, Membutuhkan team work dengan percaya sama teman, Mengobrol dan mencari tahu alasannya konsumen menggunakan produk, Mencoba brandnya dan tidak langsung percaya, Banyak membaca dan membuka literaltur, Brand smart harus tinggi”, terangnya

Dan Oktaviana Purnamasari pun menegaskan Harus ada link and match antara dunia kampus di era digital dalam menyingkapi hal ini karena industri periklanan sudah mulai bergeser dan sudah mulai beralih ke era digital karena kecepatan perkembangan teknologi. Yang awalnya one way communication sekarang dengan internet sudah bisa menjadi two way communication dan bahkan di era digital seperti sekarang ini sudah bisa menjadi multi way communicaton.” Tantangan dunia kampus menghadapi era digital adalah bagaimana kampus harus menyiapkan SDM dan Infrastruktur ( seperti menghadirkan dosen2 tamu yang memang merupakan praktisi- praktisi yang mumpuni )” jelasnya

Serta dalam sesi ketiga atau terakhir pembahasan tentang Penyiaran, Gaib Maruto Sigit mengatakan Seperti apa posisi radio di era digital ini? Saat ini radio radio di indonesia sudah dimiliki oleh grup grup besar. Orang indonesia internet hanya digunakan untuk, mengobrol, dan streaming. Padahal Radio jaman sekarang juga memberikan layanan di media sosial sehingga mendengarkan radio bukan hanya via radio tapi juga kebeberapa media sosial. “Dan juga membuka peluang untuk teman-teman bekerja, Kebutuhan SDM di radio saat ini : Web developer, Web designer, Creative designer, Social media specialist, Web radio producer & apps, Content writer”, ungkapnya

Berhubungan dengan itu Endah Saptarini menjelaskan bahwa Sekarang ini media elektronik sedang ada disituasi challenging, Setiap hari orang dapat berita dari pegawai satu sama lain. Prinsipnya sama satu sama lain adalah reporter ada Jaman sekarang tv sedang dicari mau begerak ke arah mana? Bagaimana dunia tv berkembang dan bagaimana kesempatan tv berkembang?. “Kami menyadari bahwa tv bukan satu satunya primadona tapi tetap menjadi pendapatan pertama, Dengan begitu kami menghasilkan bisnis lain ( konten, liputan, dll ) 60% dari seluruh rakyat indonesia masih menonton tv. Kenapa kami masih bertahan di industri? Karena kami melakukan verifikasi dan tidak hoax. Tv dan Radio tidak akan menghilang dikarenakan mereka mengikuti kondisi pada saat ini”, tegasnya

Sementara itu Amin Sabana menerangkan bahwa, Dunia penyiaran sifatnya sudah borderles (sudah tidak ada batas). Artinya sekarang dunia broadcasting sudah sangat berubah menjadi konten. dalam industri tersebut artinya channelchannel sangat harus diperhatikan. Dengan kemajuan digital saat ini maka masing-masing kita adalah media owner (media bisa kita miliki). “Industri penyiaran adalah industri yang sangat populer, artinya itu kompetitif bahwa lulusan komunikasi setiap tahun ada sekitar 15 ribu. Karena sangat kompetitif kampus harus memberikan nilai lebih kepada mahasiswannya, dan dapat menjadi lulusan yang Skill Full dalam hal editor, design grafis, menulis, video editing, dll”, pungkasnya

Sebelum acara berakhirpun Velda Ardia sebagai pelaksana berharap dengan adanya acara seminar ini, mahasiswa dapat memiliki gambaran tentang bagaimana perkembangan industri komunikasi di era digital yang sudah bergerak sangat pesat saat ini, dan sebagai bekal mereka mempersiapkan diri terjun di dunia industri.(Arga)