KETUA PPDB SMAN 6 TANGSEL MELAKUKAN PEMBOHONGAN PUBLIK

Untitled-1 (2)

Teropongpost.Tangsel– Ketua PPDB SMAN 6 Tangsel berdasarkan wawancara Kamis, (09/07/2015) saat di konfirmasi oleh media teropongpost mengatakan bahwa sistem seleksi penerimaan siswa baru tahun ajaran 2015 mengatakan sudah sesuai dengan prosedur seleksi yang sudah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan. Konfirmasi yang dilakukan oleh Tim Teropongpost saat itu tidak ada penyelewengan jual beli bangku saat PPDB. Berdasarkan pengakuannya mengatakan bahwa tidak ada kecurangan yang diadakan oleh panitia seleksi penerimaan siswa baru di Sekolah SMAN 6 Tangsel.

Berselang satu hari setelah itu tepatnya Jum’at, (10/07/2015) saat pengumuman dan batas akhir PPDB terjadi protes dan kericuhan dimana siswa dan orang tua murid berusaha melakukan klarifikasi langsung kepada ketua PPDB SMAN 6 Tangsel. Kekecewaan siswa dan orang tua murid yang tidak diterima sehingga melakukan protes kepada pihak panitia seleksi PPDB karena banyak kecurangan-kecurangan dengan adanya indikasi dan dugaan jual beli bangku berkisar antara lima juta sampai dengan sepuluh juta rupiah.

Dihadapan sejumlah media tingkah laku Safrizal yang tidak mencerminkan seorang pendidik dengan melakukan pelecehan dan penghinaan secara terang-terangan dengan cara membuka kaca mobil yang dikendarai dan melambaikan tangan yang diarahkan kepada calon siswa yang belum mendapat bangku sekolah sambil melambaikan tangan dengan ucapan DADAH… sehingga secara sepontan tindakan ini membuat sejumlah siswa yang masih risau tidak dapat melanjutkan sekolah merasa dilecehkan. Dan akan melaporkan tindakan ini kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangsel (Lihat Video Berita Sebelumnya).

Kesimpangsiuran berdasarkan informasi dari siswa dan orang tua murid karena sistim informasi seleksi yang tidak jelas dan transparan. Sebelumnya berdasarkan konfirmasi kepada siswa dan orang tua murid ternyata banyak yang diarahkan menemui oknum yang bernama SAFRIZAL (mengatas namakan komite sekolah SMAN 6), diruang bendahara SMAN 6 Tangsel.

Berdasarkan investigasi Teropongpost, oknum Safrizal ternyata hanyalah seorang pensiunan guru yang jabatan honorer. Tetapi dengan leluasa melakukan praktek pungutan sejumlah uang dengan di fasilitasi panita PPDB dilakukan diruang bendahara sekolah. Ketika dikonfirmasi tim Teropongpost awalnya ketua PPDB Zulkarnaen tidak mengakui adanya praktek pungutan liar dan jual beli bangku sekolah ini.

Berdasarkan pengakuan dan protes sejumlah orangtua murid cara Safrizal vulgar dan terang-terangan menghitung uang pungutan liar dihadapan orang tua murid. Nama-nama calon siswa yang tidak ada namanya dalam catatan Safrizal maka sudah dapat dipastikan tidak diterima. Dan yang namanya sudah ada merupakan titipan berdasarkan memo/katabelece dari sejumlah pejabat Kota Tangsel. Pengakuan Safrizal ternyata setelah dilakukan konfirmasi kepada Ketua PPDB Zulkarnaen mengatakan mengetahui adanya kegiatan Safrizal melakukan seleksi 108 nama yang ada nota pejabat dan hanya ada 72 kursi dengan klasifikasi buat 2 kelas saja.

Dan hal ini (banyaknya nota/katabelece) dari Dinas Pendidikan menjadi sebab kacaunya seleksi PPDB SMAN 6 ujar Safrizal. Dan bukan hanya menjadi persoalan sekolah semata. Ini akan dikembalikan agar menjadi perhatian Dinas Pendidikan juga. Persoalan terlalu banyaknya nota/katabelece atau titipan pejabat Kota Tangsel mempengaruhi sisa kursi yang hanya tersedia 72 kursi yang akan diperebutkan calon siswa.

Praktek kecurangan terjadi terang-terangan dilakukan setelah selesainya seleksi dan pengumuman reguler. Dimana setelah masuk pada seleksi mandiri dan prestasi sejumlah orang tua murid secara bergiliran masuk ke dalam ruang bendahara melakukan pembayaran kepada oknum bernama Safrizal, padahal Safrizal sudah jelas bukan merupakan panitia seleksi PPDB, ia hanyalah sebagai tenaga honorer semata. Faktanya Sahrizal bisa dengan leluasa dan dapat menentukan kelulusan dapat atau tidak diterimanya siswa di SMAN 6.

Protes sejumlah orang tua murid yang disampaikan kepada oknum yang bernama Safrizal akibat perlakuan yang berbeda dialami sebagian calon siswa yang mendaftarkan diri masuk melalui sistem seleksi reguler, mandiri dan prestasi (seleksi khusus).

Tetapi ternyata dapat diketahui sebagian calon siswa dan orang tua murid bisa melakukan pembayaran sejumlah uang kepada oknum bernama Safrizal. Hal senada diakui oleh Ketua Panitia PPDB SMAN 6 Tangsel Zulkarnain dihadapan media, bahwa memang mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh sejumlah siswa dan orang tua murid. Diseleksi langsung kepada oknum Safrizal. Lalu bagaimana kemurnian sistem seleksi PPBD SMAN 6, kalau bisa di atur oleh oknum mantan guru/tenaga honorer.

Berdasarkan infestigasi teropongpost oknum yang bernama Safrizal memang meminta sejumlah uang agar siswa dan orang tua bila mau diterima di SMAN 6 Tangsel. Hal ini lah yang akhirnya menyulut kemarahan sejumlah calon siswa dan orang tua murid karena diperlakukan berbeda dan ada praktek jual-beli bangku melalui jalur pintu belakang.

Bagaimana bisa Ketua Panitia PPDB tidak mengetahui adanya praktek pungutan liar dan jual-beli bangku. Apabila sejumlah orang tua dengan menyetor uang kepada oknum Safrizal nyatanya bisa dinyatakan bisa diterima bersekolah di SMAN 6. Ternyata jalur pintu belakang bayar sejumlah uang menjadi tabir untuk mengusut tuntas adanya seleksi PPDB tahun 2015 SMAN 6 Tangsel sangat kacau. Perbuatan main uang terang-terangan di dalam ruang bendahara sungguh praktek ini sangat menista dunia pendidikan dan menyulut kemarahan. Banyak orang tua murid yang begitu kecewa karena ternyata Safrizal hanyalah merupakan pensiunan guru tetapi perannya dalam seleksi penerimaan siswa baru tahun 2015 begitu dominan dan kental melakukan pungutan liar dalam praktek jual beli bangku. Kepala Sekolah SMAN 6 harus mempertanggungjawabkan masuknya oknum yang tidak ada kapasitas sebagai panitia PPDB dalam menentukan calon siswa. Kepala Dinas Pendidikan dan DPRD harus mengusut tuntas hal ini.

Dengan adanya peristiwa sejumlah protes calon siswa dan orang tua murid akan membawa bukti-bukti adanya indikasi kuat kecurangan jual beli bangku ini kepada Pihak Dinas Pendidikan dan Pemerhati Bidang Pendidikan, dengan harapan agar dapat mengusut tuntas permasalahan seleksi yang tidak transparan ini. Termasuk mengharapkan agar DPRD Kota Tangsel ikut memikirkan kekisruhan praktek seleksi yang tidak benar. Dimana sejumlah siswa dan orangtua murid mengharapkan pihak SMAN 6 melalui Dinas Pendidikan agar dapat membuka sejumlah kelas untuk menampung siswa yang tidak diterima karena sistem penerimaan yang carut marut. Lihat Hasil Rekaman Video Dalam Youtube (Ma’ul)