Martinah, Perayaan HUT, Silpa Anggaran 2016, Mata Rantai Catatan Sewindu Kota Tangsel

Teropongpost, Tangsel,– Martinah, HUT Ke-8 Kota Tangsel, Silpa Anggaran 2016. Martinah (61) adalah seorang janda tua sebatang kara yang tinggal di RT 05/RW 04 Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan. Meski memiliki seorang anak, namun anak semata wayangnya itu seperti enggan untuk tingggal bersamanya, ini merupakan hal yang wajar, sebab jika dilihat dari kondisi tempat bernaung yang sangat tidak layak huni, bahkan lebih terkesan seperti gubuk darurat.

Bangunan berukuran sekitar 2 x 5 meter, terbagi dalam dua skat, skat pertama digunakan untuk kamar mandi yang hanya berukuran 1 x 1 meter, skat kedua digunakan untuk dapur dan kamar tidur. Bangunan itu menempel pada bangunan induk milik salah seorang warga, yang tanah dan rumahnya sudah dijual kepada salah satu perusahaan pengembang property. Ironisnya martinah hanya diberi waktu untuk tinggal di gubuknya hingga januari 2017 mendatang.


Dinding gubuk darurat tempat Martinah ini berbahan seng bekas, dengan atap dari bahan material seadanya. Ketika hujan turun, kebocoran diberbagai sisi ruangan, sementara lantainya sebagian tanah dan sebagian puing-puing sisa bangunan serta sebagian kecil lainnya plesteran.

Ditemui langsung di gubuknya, sabtu (26/11), kepada tim teropongpost, Martinah menceritakan sepenggal kisah hidup yang dialaminya. Rumah dan harta bendanya habis terjual untuk biaya berobat suami tercinta yang sakit keras. Namun takdir berbicara lain, pada Tahun 2002 suami wanita malang itu menghembuskan nafas terahir tatkala anaknya baru berusia 4 Tahun.

“Rumah saya sudah saya jual untuk biaya berobat suami saya yang sakit keras, tapi takdir berbicara lain, Suami saya meninggal pada Tahun 2002, kala itu anak saya masih berumur 4 Tahun, sejak saat itulah kehidupan saya, saya jalani dengan keadaan seperti sekarang” tuturnya, sambil berderai air mata.

Keseharian Martinah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bekerja serabutan, mulai dari menjadi kuli cuci, hingga bantu-bantu tetangga sekitar yang membutuhkan tenaganya.

“Sudah sekitar setahun lebih dia tinggal disini, kesehariannya ya dia bantu-bantu tetangga sekitar, atau pun kenalan-kenalannya, sepeti mencuci, masak ataupun ada pekerjaan lainnya”, ujar salah satu tetangga Martinah dilingkungan Rw 04.

Sementara itu, Mursid Ketua Rw 04, menyikapi permasalahan sosial diwilayahnya ini dengan cukup serius, dari pengakuannya, ia telah melaporkan kepada pihak Kelurahan dan Dinas terkait untuk memohon uluran tangan dan solusi terkait permasalahan Martinah.

“Saya sangat prihatin dengan keadaannya, dimana untuk tempat tinggal saja dia harus menempel sana sini, selain itu sumber penghidupannya tidak jelas, saya pernah mendiskusikan masalah ini ke Kelurahan, lalu pihak kelurahan pun menyuruh saya untuk ke Dinas Sosial, dan saya juga meleporkan secara langsung ke Dinas Sosial, setelah seminggu ini, belum ada tindak lanjutnya”, pungkas Mursid, saat ditemui oleh insan media di kediamannya, yang tak jauh dari tempat Martinah bernaung.

Sebagai Ketua lingkungan, Mursid menaruh harapan besar agar pemerintah melalui Dinas terkait dapat memberikan solusi, karena menurutnya, ia selaku ketua lingkungan serta para tetangga sekitar yang memang memiliki keterbatasan untuk membantu Martinah.

“Harapan saya, laporan saya dapat direalisasikan, dalam bentuk perhatian terhadap adanya warga kami yang seperti ini keadaannya, setidaknya ada perhatian lebih terhadap yang bersangkutan”, tutup Mursid.

Terlepas dari kondisi sosial Martinah, Kota Tangerang Selatan tengah riuh merayakan hari jadinya yang Ke-8 tahun, kegiatan perayaan ini sudah digelar sejak beberapa hari yang lalu, menelan anggaran hingga milyaran rupiah.

Perayaan itu sendiri diisi dengan berbagai acara dan berbagai tema, yang puncaknya ditutup dengan digelarnyua acara Malam Inagurasi HUT Tangsel Ke-8 pada Sabtu malam (26/11), aneka pertunjukan dan hiburan rakyat digelar untuk memeriahkan malam puncak acara.

Saat ditemui usai mengikuti salah satu rangkaian kegiatan perayaan HUT Kota Tangsel, Drs. H. Benyamin Davnie, selaku Wakil Walikota Tangerang Selatan terkait arti dari Sewindu usia Kota Tangsel.

“Dalam rangkaian perayaan ulang tahunnya, telah dilakukan berbagai kegiatan yang bersifat menghibur, arti sewindu Kota Tangsel bagi saya sendiri lebih kepada refleksi ibu Airin bersama saya memimpin Tangerang Selatan selama 6 tahun diperiode ke dua kepemimpinan kami, dan kami berintropeksi bersma para kepala Dinas, Kita chek apa yang sudah kita lakukan, kemudian apa yang harus kita lakukan lagi kedepan”, ujarnya(26/11).

Disisi lain, Anggaran Pendapatan dan Belanja Derah (APBD) Kota Tangerang Selatan pada Tahun 2016 berjumlah Rp 3.310.393.775.405 (Tiga Trilyun Tiga Ratus Sepuluh Milyar Tiga Ratus Sembilan Puluh Tiga Juta Tujuh Ratus Tujuh Puluh Lima Ribu Empat Ratus Lima Rupiah), yang disahkan pada awal Januari 2016 lalu, dengan tambahan 7,3 milyar pada pengesahan APBD Perubahan (26/10).

Dimana disampaikan oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Tangsel Tedy Meiyadi via pesan telepon sellulernya, menyampaikan hingga saat ini potensi Silpa atau sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan, yaitu selisih surplus atau defisit anggaran dengan pembiayaan netto, dimana dalam penyusunan APBD angka Silpa ini seharusnya adalah nol. Hal ini berkaitan dengan daya serapan anggaran Kota Tangerang Selatan, yakni diprediksi mencapai 600 M.

“Tahun ini Silpa 2016 diprediksi sekitar 600 milyar, yang artinya 18% dari jumlah anggaran 3,3 Trilyun” singkat Tedy (22/11).(Tim)