Noken, Eksotika Kerajinan Khas Papua

Teropong post, Jakarta,- Siapa yang tidak kenal dengan keindahan dan keberagaman adat budaya Indonesia yang memiliki banyak pulau dan laut luas. Negeri ini memiliki berjuta keindahan budaya masyarakatnya, mulai dari bahasa sampai dengan tata kehidupannya. Beberapa pulau yang terdapat di Indonesia memiliki karakter tersendiri, selain pulau-pulau kecil, Nusantara (sebutan masa lalu) memiliki pulau besar diantaranya Papua atau dulu dikenal dengan nama Irian Jaya.

Papua terletak di wilayah timur Indonesia, tepatnya berdampingan dengan Negara Papua Nugini. Pulau yang bentuknya menyerupai burung ini memiliki bentang alam yang eksotis, terbukti dengan adanya hamparan pegunungan Jaya Wijaya. Masyarakatnya yang masih melestarikan budaya daerah serta keunikannya menjadikan kawasan daerah di Papua sering dikunjungi wisatawan.

Nah Dalam Rangka Pameran Hut Dekranas ke 34 di Gedung SMESCO Jakarta, Provinsi Papua mendapatkan alokasi stand ukuran stand (3 x 3 m) dengan menampilkan perkembangan berbagai Kerajinan Khas di Papua.
Pameran ini sekaligus memperingati acara HUT DEKRANAS ke-34 pada tahun ini. Acara ini juga dimeriahkan serangkaian kegiatan seperti talkshow, workshop dan rapat kerja nasional Sekitar 15 usaha kecil dan menengah (UKM) dari propinsi Papua juga ikut serta dalam pameran HUT ke 34 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Gedung Smesco Jakarta.

Pameran yang yang berlangsung tanggal 5-8 Juni 2014 dibuka oleh pembina Deekranas Ani Bambang Yudhoyono. Kerajinan anyaman salah satu kerajinan tertua yang hampir semua ada di seluruh Indonesia. Kerajinan anyaman memiliki daya tari bahan bakunya yang khas dan memiliki nilai artistik dan bisa didaur ulang.

Pembina Dekranas Ani Bambang Yudhoyono menilai kerajinan anyaman harus terus dilestarikan dan dikembangkan oleh berbagai komunitas perajin. Selain itu, ia berharap kerajinan ayaman juga mendapat dukungan promosi agar diketahui pencinta kerajinan ayaman. Apalagi, kerajinan anyaman salah satu kerajinan tertua yang hampir semua ada di seluruh Indonesia. Hal ini disampaikannya dalam pembukaan pameran Dekranas Peringatan Hut ke 34 Dekranas yang berlangsung tanggal 5-8 Juni 2014 di Gedung SMESCO Jakarta.

Sementara itu, Ketua Umum Dekranas, Hj.Herawati Boediono menegaskan kerajinan anyaman memiliki daya tarik tinggi. Bahan bakunya khas dari daerah asal perajin dan nilai artistik ihwal motif, warna, serta mudah didaur ulang. Dimana kerajinan anyaman dibuat dari berbagai bahan seperti bambu, rumput, daun jagung, daun padi, daun kelapa, bemban (sejenis alang-alang), lidi, daun lontar, rotan, dan daun pandan. Sehingga produk alami tersebut bisa dijadikan berbagai produk seperti keranjang, tas, tikar, peranti saji, hiasan dinding, dan boneka. “Kerajinan ayaman adalah jati diri bangsa,” kata Hj.Herawati Boediono. Memotivasi pengrajin, ditegaskannya Dekranas Indonesia siap menjadi tuan rumah pada kegiatan kompetisi Handicraft Internasional Tahun 2014. Karena dengan menjadi tuan rumah akan berkesempatan bagi perajin untuk unjuk karya anak bangsa serta menyiapkan produk unggulan terbaiknya agar dikenal negara internasional.

Tema HUT ke-34 Dekranas ini adalah “Peningkatan Daya Saing Produk Kerajinan Sebagai Basis Produksi Dalam Menyongsong Pasar Bebas ASEAN 2015.” Peringatan HUT ke-34 Dekranas ini dihadiri oleh Ibu Negara Indonesia, Hj.Ani Bambang Yudhoyono; Ketua Dekranas, Hj.Herawati Boediono; Ketua Harian Dekranas, Hj.Vita Gamawan Fauzi; Menteri Koperasi dan UKM, Syarief Hasan; Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu; SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu) Jilid II; Istri Pelaksana Tugas Gubernur DKI, Veronica Basuki Thahaja Purnama.
Tari Menjalin dari Provinsi Jambi mengawali Peringatan HUT ke-34 Dekranas ini. Tari ini menyiratkan makna kebersamaan, kekompakan, dan kegembiraan dalam menganyam. Ibu Negara Hj Ani Yudhoyono, selaku Pembina Dekranas, dalam sambutan dan arahannya menekankan seluruh pelaku usaha, khususnya pelaku UKM bisa membenahi diri menghadapi Masyarakat Ekonomi (MEA) ASEAN Tahun 2015.

Dalam stand tersebut, Papua memamerkan kerajinan khas Papua yaitu Noken, Noken merupakan kantong atau tas yang disulam secara tradisional dari bahan alami yang berasal dari tumbuhan. “bahan dasar Noken ini dari bahan-bahan alami seperti dari kulit kayu dan juga tanama Anggrek” Ujar Hans Senduk. Dari 250 suku dan bahasa di Papua, semua memiliki tradisi kerajinan tangan Noken yang sama. Noken biasa dipakai untuk membawa barang seperti kayu bakar, tanaman hasil panen, sampai barang-barang belanjaan. Biasanya tas ini digantung di kepala atau leher perempuan Papua untuk membawa hasil bumi, anak babi, bahkan menggendong bayi. Selain banyaknya bawaan yang bisa dikalungkan, beberapa perempuan bahkan menggantungkan lebih dari satu Noken di lehernya. Biasanya Noken ini disusun bertingkat di atas punggung supaya tidak saling tumpuk dan berat.

Berbagai motif Noken dipamerkan dalam gelaran Pameran Hut Dekranas ke 34 di Gedung SMESCO Jakarta. Harga yang ditawarkan juga beragam tergantung dari kesulitan motif itu sendiri. Lama proses pembuatan Noken sekitar 2 bulan tergantung kesulitan motif anyamannya. Maka tak heran jika harga yang dibandrol pun mulai dari 1juta hingga 3juta rupiah. (san)

091514_2241_NokenEksoti1.jpg

Picture:Noken