Pasca Tsunami Selat Sunda, Wilayah Kab. Pandeglang dan Kab. Serang masih terdampak

Teropongpost, Banten, – Tsunami yang menerjang wilayah Selat Sunda dan Lampung sampai saat ini masih terdampak. Dibeberapa wilayah seperti Kab. Pandeglang dan Kab. Serang Banten masih terpantau porak poranda akibat tsunami tersebut. Kerusakan pemukiman warga baik rumah, penginapan, warung dan tempat lainnya habis tersapu air pantai dan membuat warga harus mengungsi.

Salah satunya didaerah Labuan, Berdasarkan pantauan tim Teropongpost melalui hasil keterangan tentang kronologi kejadian dari seorang warga yang memiliki kios nasi uduk disana mengatakan, pada saat tsunami terjadi, beberapa warga sekitar sedang berada dirumah mereka masing-masing, sampai suatu ketika ada beberapa remaja dan warga sekitar yang saat itu sedang berada disekitar pantai mendengar teriakan bahwa akan ada tanda-tanda tsunami akan menerjang. Mendengar hal tersebut, warga setempat langsung keluar rumah mereka kemudian melarikan diri kearah masjid untuk mengungsi. Pasca tsunami tersebut, saat beberapa warga ingin mengecek rumah dan kios mereka, ternyata semua sudah hancur akibat terjangan tsunami.

Kopral Heru selaku relawan posko bencana tsunami TNI AL Koarmada I menuturkan bahwa alat pendeteksi tsunami di daerah Labuan sebenarnya belum diketahui masih berfungsi atau tidak karena seringkali mengalami eror bahkan sering berbunyi sendiri, sekalipun tidak ada tsunami ataupun gempa yang datang. Cara kerja alat tersebut menurutnya ialah dapat mendeteksi tsunami yang sebelumnya diawali dengan gempa, terangnya.

Daerah labuan yang juga terdampak tsunami selat sunda, terdata berdasarakan laporan sementara korban jiwa pada (29/12/18) pukul 21:00 yakni terdapat sekitar 2 orang hilang, 80 orang korban luka-luka dan 17 orang meninggal dunia dari total korban secara keseluruhan yang berjumlah 315 orang meninggal dunia, 757 orang luka-luka dan 8 orang meninggal dunia dan akan terus bertambah pada wilayah dan daerah lain yang masih belum terdata.Sementara didaerah lain yang juga terdampak tsunami selat sunda berdasarkan data laporan sementara, berada dilokasi Kab. Pandeglang diantaranya Carita dengan 71 orang meninggal dunia, 102 orang luka-luka, Panimbang dengan 74 orang meninggal dunia dan 157 orang luka-luka, Cigeulis dengan 5 orang meninggal dunia dan 42 orang luka-luka, Sumur/P.Badul dengan 48 orang meninggal dunia dan 60 orang luka-luka, Tanjung Lesung dengan 56 orang meninggal dunia dan 11 orang luka-luka, Cibaliung dengan 2 orang meninggal dunia dan 118 orang luka-luka, Cimanggu dengan 14 orang meninggal dunia dan 41 orang luka-luka, Pangelaran dengan 27 orang luka-luka, Bojong dengan 2 orang meninggal dunia dan 2 orang luka-luka, Nenes dengan 2 orang meninggal dunia dan 14 orang luka-luka, Jiput dengan 1 orang meninggal dunia dan akan 21 orang luka-luka serta Pulau Handeuleum dan Banyu Asin dengan 1 orang meninggal dunia. Jumlah korban jiwa baik dalam keadaan meninggal dunia dan luka-luka Kab. Pandeglang terdata sekitar 294 orang meninggal dunia dan 675 orang luka-luka. Sedangkan di Kab. Serang yakni di daerah Cinangka/ Anyer dengan 17 orang meninggal dunia dan 36 orang luka-luka serta daerah P. Sanghiang dengan 4 orang meninggal dunia dan 46 orang luka-luka.Jumlah korban jiwa baik dalam keadaan meninggal dunia dan luka-luka di wilayah Kab.Serang terdata sekitar 21 orang meninggal dunia dan 82 orang luka-luka. Hasil laporan tersebut akan terus bertambah karena masih ada beberapa wilayah yang belum terdata secara keseluruahn karena masih dalam tahap pencarian dan pendataan yang perlu dipastikan jumlah korban jiwa baik dalam keadaan meninggal dunia dan luka-luka diwilayah Kab. Pandeglang dan Kab. Serang.

Tsunami yang menerjang selat sunda pada 22 Desember 2018 lalu disebabkan oleh aktivitas anak gunung krakatau di Selat Sunda serta adanya pasang tinggi dan longsor bawah laut dari letusan gunung tersebut. Wilayah terdampaknya ialah sekitar pesisir Banten dan Lampung. Terdapat sekitar ratusan orang tewas ribuan orang luka-luka dan puluhan orang hilang akibat Peristiwa tersebut. Dilansir dari laman Tribunvideo.com, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, memaparkan kronologi terjadinya peristiwa tsunami di wilayah pantai di sekitar kawasan Selat Sunda, termasuk tsunami yang menerjang pesisir Lampung. Dwikorita memaparkan pada Jumat (21/12/2018) sekitar pukul 13.51 WIB, BMKG telah mengumumkan erupsi gunung anak Krakatau dengan status level Waspada. Pada Sabtu (22/12/2018), kata Dwikorita, BMKG mengeluarkan peringatan dini sekitar pukul 07.00 WIB akan potensi gelombang tinggi di sekitar perairan Selat Sunda.(Tim)