Proyek Peningkatan Jalan Kota Tangsel Diduga Menjadi Ajang Transaksi Oleh Oknum Nakal

Teropongpost Tangsel, – pembangunan peningkatan jalan di kelurahan Setu kecamatan Pamulang tepatnya di jl. Gurameh, berlangsung sejak tanggal 3 November 2015 dengan anggaran dan pelaksana proyek yang tidak diketahui karena papan proyek tidak didapati di lapangan.

Selain itu slump test tidak terlihat di tempat pengerjaan, menurut konsultan pengawas tidak dislump test karena orang ang bersangkutan tidak ada ditempat. Dalam pengecoran disiram air dengan alasan coran terlalu keras. Padahal jika pengecoran disiram air dapat mengurangi kadar beton yang berdampak pada berkurangnya kwalitas beton.

” saya tidak tau, orangnya gak datang” pungkasnya

Ketika dimintai keterangan dari pihak konsultan pengawas proyek terkait siapa pelaksana proyek, pihaknya mengaku lupa. Pihak pengawaspun cenderung kurang memahami mengenai pengujian dan penyelidikan bahan dilapangan. Seharusnya tugas pokok dan fungsi konsultan pengawas yakni Bertanggung jawab atas pengujian dan penyelidikan material/bahan di lapangan dengan Mengikuti petunjuk – petunjuk dan persyaratan yang telah ditentukan terutama sehubungan dengan :

• Inspeksi secara teratur ke paket-paket pekerjaan untuk melakukan monitoring kondisi pekerjaan dan melakukan perbaikan-perbaikan agar pekerjaan dapat direalisasikan sesuai dengan ketentuan dan persyaratan yang telah ditentukan.

• Pemahaman terhadap spesifikasi. Metode pelaksanaan untuk setiap jenispekerjaan yang disesuaikan dengan kondisi dilapangan.

Setelah dikonfirmasi kepada Pejabat PelaksanaTeknis Kegiatan (PPTK) Ali Akbar, ST, untuk Kecamatan Pamulang, rabu (04/11) namun malah membenarkan hal tersebut dan terkesan terdapat indikasi saling melindungi. Dengan adanya kejanggalan–kejanggalan dilapangan sangat memungkinkan adanya kecurangan-kecurangan dari pengusaha pelaksana proyek.

“Itu tidak apa-apa, supaya coran tidak keras. pengawas bukannya tidak tau kontraktornya, mungkin mereka males karena lagi capek” ungkapnya.

hingga pengerjaan selesaipun, jumat dini hari (06/11) pengecoran tidak dilakukan slump test. tim TP mencoba klarifikasi kepada pejabat PPTK-nya Ali Akbar via sms, namun tidak ada jawaban.

Bukan hal asing lagi jika pengusaha pelaksana proyek mencari keuntungan lebih dengan cara-cara yang tidak dibenarkan. menurut pantauan tim TP, Hal tersebut seringkali dilakukan karena memang keuntungan dari pengusaha itu sendiri sangatlah tipis, pasalnya sebelum pelaksanaan pengerjaan proyek pengusaha pelaksana harus menyetor 10% (sepuluh persen) ke DBDSDA.

Diketahui dari keuntungan setiap proyek pengusaha hanya mendapat bagian 30% (tiga puluh persen) namun mendapat 20% (dua puluh persen) sudah dapat dikatakan untung, karena dari 30% dipotong untuk operasional dan pengeluaran-pengeluaran yang tidak terduga dilapangan, sehingga sangat mungkin jika pengusaha menacari keuntungan lebih melakukan kecurangan-kecurangan terhadap pembangunan proyek tersebut sehingga 90% (Sembilan puluh persen) pembangunan jalan kelurahan bambu apus di jalan gurame tidak sesuai spek.

Sungguh sangat ironis jika pembangunan yang seharusnya menjadi hak rakyat menjadi ajang transaksi bagi oknum-oknum tertentu yang tidak lain merupakan korupsi berjamaah. dan lagi-lagi rakyat yang dikorbankan, jika hal-hal seperti ini tetap saja dibiarkan maka Negara ini sungguh sangat jauh dari kata sejahtera dan bebas korupsi.(Tim)