Wacana Kota Tangsel Milik “Jalur Car Free Day” sepanjang 100 KM

TP Tangsel, Semakin banyaknya jumlah kendaraan bermotor yang dimiliki masyarakat Kota Tangerang Selatan tidak mampu di imbangi dengan pembangunan infrastruktur yang memadai, akibatnya jumlah titik kemacetan di beberapa ruas jalan dan persimpangan jalan kerap terjadi.

Sementara itu kegiatan “ Hari Bebas Kendaraan Bermotor” atau yang lazim disebut Car Free day mulai ramai digalakkan oleh Walikota Tangerang Selatan Hj.Airin Rachmy diany SH.MH. setiap dua pekan sekali. Yang tujuannya agar masyarakat turut aktif menurunkan ketergantungan terhadap kendaraan bermotor, selain bermanfaat meredam polusi akibat gas buang kendaraan, dan membiasakan warga Tangsel berhenti menggunakan kedaraan dalam menjalani aktitifitas rutinnya, tetapi diganti dengan bersepeda atau kegiatan lainya.

Tangerang Selatan dengan luas 147 Kilometer, dan jalur jalan lingkungan, jalan kota, yang membentang dan akan dibangun sesuai Perda RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah), sepertinya akan sulit memiliki jalur Car Free Day yang mengelilingi 7 kecamatan di Kota Tangsel sepanjang 100 Kilometer.

Yudianto, Sekretaris Dinas Bina Marga dan SDA Kota Tangsel, menanggapi positif keinginan beberapa elemen masyarakat yang berkehendak memiliki jalur bebas kendaraan bermotor, ”garis lingkar dalam yang mengelilingi kota Tangsel untuk jalur Car free day sepanjang 48 Kilometer dan hal ini jelas amat bagus bila dibangun di Kota Tangerang Selatan ” ujar Yudi di kantornya, beberapa waktu yang lalu.

Bersamaan dengan itu, Carsono, kabid Pemukiman Dinas Tata Kota, Bangunan dan Pemukiman Kota Tangsel, malah amat mendukung bila proyek “ Jalur Car free day” namun dirinya mengakui proyek ini tidak mungkin di biayai oleh APBD, sambil memperlihatkan Peta lintasan jalan yang akan di bangun di semua wilayah Kota Tangsel sesuai Perda RTRW ( Rencana Tata Ruang dan Wilayah). “Berdasar peta dari Peraturan Daerah RTRW amat sulit untuk mewujudkan pembangunan jalur Car Free day karena soal anggaran pengadaan lahan akan menimbulkan beban pada APBD, namun lain soal bila lahan untuk jalur itu sudah ada.” ujar Carsono, di kantornya beberapa hari yang lalu.

Tangerang Selatan di usianya yang ke 6, saat ini, memerlukan sesuatu yang menjadi kebanggaan Kota, suatu monumental abadi yang akan menjadi catatan sejarah sebagai kota yang mempelopori pembangunan jalur Car Free day terpanjang untuk sebuah kota, membayangkan Tangerang Selatan menjadi kota lombalari marathon sedunia, atau menjadi tempat lomba sepeda sport di Asean, cukup membuat hati warga akan merasa bangga dan bahagia bila impian para pecinta lingkungan, para komunitas gowes, dan juga kelompok masyarakat home industri pasti akan merapat di jalur itu yang pada akhirnya akan membuat perekonomian warga semakin lebih baik.

Buat kami, selaku warga hal-hal yang bersifat tehnis biarlah di laksanakan oleh para ahlinya, namun pemerintah Kota Tangerang Selatan sebaiknya segera berkordinasi dengan para pengembang besar dan stake holder lainnya, karena bila tidak segera di prioritaskan pembangunan ini, Tangerang Selatan dengan lahannya yang semakin sempit karena pembangunan cluster dan apartemen, akan segera bernasib seperti kota-kota besar lainnya yakni hanya menjadikan warga berpenghasilan rendah semakin tergeser, dan pendatang baru yang memiliki kemampuan ekonomi yang stabil akan bertahan. Tentu saja hal ini adalah dinamisasi pembangunan yang tak bisa dihindari, namun sebagai warga Kota yang turut mendukung wacana pemekaran Kota Tangerang Selatan 2008 yang lalu, ingin memiliki kebanggaan lain sebagai sebuah kota, tanpa harus mengesampingkan prioritas pembangunan lainnya. (Mul)