Calon Wakil Presiden Mahasiswa UIN Banten, Ajak Mahasiswa Menjadi Akademis Yang Profesional dan Handal

Teropongpost, Banten, –Calon wakil Presiden Mahasiswa UIN Banten Mufti Muzzammil ajak para mahasiswa untuk menjadi Insan Akademis.

Sebab Menjadi mahasiswa bukan berarti menjadi “menara gading” yang tinggi menjulang di tengah masyarakat. Kuliah organisasi, bukan berarti lupa akan permasalahan masyarakat Utin Banten.

“Tentu hal ini harus di tempa secara nilai-nilai akademis yang akan dimunculkan seperti, pemberdayaan diskusi, pembelajaran organisasi yang tentu harus di sadarkan dalam prestasi. Sadar akan peran dan fungsinya di dalam tri dharma perguruan tinggi,” Seru Mufti Muzzammil.

Lebih jelasnya Mufti pun mengatakan, Kemunduruan mahasiswa mulai dari tahun ke tahun mengalami kemerosotan terutama di Banten. Dalam Estafet perlombaan dan diskusi daerah serta memperjuangkan hak dan nilai masyarakat secara formal dan formil serta berkeadilan. Hilangnya sebuah idealisme disebabkan oleh kepentingan hegemoni politik.

Mufti Muzzammil mengajak, Mari kita Kerja bersama-sama antar perguruan, karena hilangnya dan tak berdaya, disamping kebutuhan mahasiswa yang semakin banyak, tentu harus ada peran penting dalam kerja Badan Eksekutif yang secara profesional dan jelas.

“Menjalankan kendaraan eksekutif yang tidak mampu menunjang aspirasi mahasiswa, membuat suatu catatan merah yang tentu harus dibenahi berdasarkan citra di setiap Eksekutif yang ada di UIN Banten,” tegasnya

Karna belang-belang yang bermasalah memang harus segera diisolasi dan disingkirkan, demi kepentingan bersama dan kemajuan suatu perguruan tinggi, sepatutnya memang harus ada kerja-kerja yang dinilai efektif disaat mahasiswa butuhkan.

“Untuk itu, penentuan pemimpin bukan lagi pada persoalan siapa yang besar dan siapa yang kecil, untuk menunjang itu semua sepatutnya dipilih kepada calon yang memang responsif kepada mahasiswa, mengetahui secara utuh kebutuhan yang diinginkan mahasiswa,” Ucap mufti.

Perhelatan ini sudah sangat amat dirasakan mahasiswa, tinggal bagaimana mahasiswa menunjukan nilai akademis untuk memilih pasangan calon yang berintegritas dan profesional, tanpa harus mementingkan kelompok membuat hegemoni politik secara linear di dalam kampus.

“Bila mulut gagap meng-eja ada jari yang siap menerjemahkan makna.” Tutupnya (RI)