Harkat dan Martabat Wanita di abad 21

Teropongpost, – Sebelumnya wanita dipandang sebelah mata oleh sebagian dari laki-laki karena dianggap lemah, lembut, dan penyayang. Pemikiran ini sudah dianut oleh masyarakat kala itu yang menganggap wanita sebagai manusia yang lemah dan tidak bisa berbuat apapun yang hanya menangis disaat mengalami masalah rumit.

Wanita yang dianggap hanya mempunyai tugas mengurusi anak, sibuk memasak di dapur, tinggal dirumah mengurusi Rumah, dan menurut dengan suami merupakan suatu hal yang lazim saat itu dimana harkat dan martabat wanita tidak pernah dijunjung tinggi meskipun islam memandang setara dengan kaum laki-laki. Sampai-sampai pada jaman jahiliyah lalu, Seorang ibu dilarang melahirkan seorang wanita karena haram hukumnya dan akan dikubur hidup-hidup. Status sosial saat itu dipandang sebagai prioritas utama dalam mengadili setiap permasalahan yang terjadi, wanita dipandang remeh oleh kalangan bangsa arab dan dijadikan sebagai budak untuk melayani rajanya serta tidak bisa memainkan perannya secara independen dalam bidang sosial, ekonomi-politik. Tidak ada aturan yang legal bagi wanitia memiliki harta hingga akhir abad ke-19.

Sampai dimana datangnya Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW menjunjung tinggi Nilai – Nilai kemartabatan wanita, Islam hadir pada jaman jahiliyah untuk mengentaskan ketidakadilan, kesenjangan, dan membebaskan penderitaan budak yang berlaku dalam kebijakan pemerintahan Qurais. Rasulullah mengajarkan kita untuk menghormati seorang ibu yang telah Mengandung, Melahirkan dan Menyusui setiap saat ketika sang bayi membutuhkan. Kehadiran Islam yang mengangkat keadilan wanita agar mendapat tempat yang layak di kehidupan sosial bertentangan dengan kebijakan Pemerintahan Qurais saat itu, oleh karenanya Islam ditentang dan dianggap sebagai bentuk penentangan terhadap raja dan wajib untuk di hukum. Kedatangan Islam mengubah tatanan kehidupan dahulu sangat terbelakang dan menindas kaum musthadifin serta buta huruf yang beranggapan bahasa arab adalah bahasa yang diucapkan dan didengarkan tidak ditulis.
Al-Quran mampu menjelaskan bahwa hak-hak kaum wanita, dan Al-Quran kali pertama memberikan mereka hak. Yang sebelumnya mereka dapatkan dalam aturan yang legal, sehingga ketika Al-Quran turun mereka memiliki hak sebagai makhluk hidup yang tidak memiliki persyaratan, apa yang disiratkan Al-Quran perempuan boleh melangsungkan pernikahan tanpa wali, dapat meminta cerai kepada suami dengan ketentuan Islam, dapat mewarisi harta ibu, ayah dan saudaranya.

Siti Aisyah anak Rasulullah Saw yang dijadikan sebagai tempat pemikiran kedua Rasulullah dalam menyampaikan Wahyu dan Hidayahnya merupakan sosok wanita tangguh dan memiliki pemikiran yang berbeda saat ini. Sampai disaat kejadian Rasulullah tertembak busung panah oleh kaum qurais pada saat perang dan Rasulullah kembali dengan kudanya dengan terbaring diatas pundak kuda tak sadarkan diri, sesampainya dirumah Aisyah yang menyambut Rasulullah dengan sedih dan berani mengambil busung tanah yang tertancap dalam dada Rasulullah dengan tegar dan tanpa rasa takut. Sampai – sampai Aisyah mengampiri medan perang kala itu untuk menantang siapa yang menembak panah ke arah Bapaknya. Cerita tersebut menggambarkan kaum wanita yang seharusnya tidak menamkan kepribadian yang sudah tertanam dari sejak kecil, yang membuat wanita lembut, penakut dan penurut. Socrates pernah menjelaskan apa yang tertanam dalam kehidupan kita sehari – hari belum tentu pasti kebenarannya, sehingga perlu dari kita untuk mempertanyakan kebeneran tersebut.

Namun demikian, dalam abad 21 kali ini dengan melihat realitas yang terjadi pada jaman Modern atau Era Milenial menyebutkan peran wanita dalam perkembangan sosial, ekonomi, dan politik masih memiliki pengaruh yang kecil sehingga pengambilan keputusan dikalangan elit tidak bisa merepresentasikan nilai nilai yang dianut oleh wanita itu sendiri, masih berpikir dengan stigma yang dibawa oleh masyarakat dulu. Bahwa wanita tidak perlu turut andil dalam peran strategis pemerintahan atau perkembangan sosial lainnya, karena dianggap sebagai penyempurna kehidupan di dunia. Serta hal lainnya yang tidak diperhitungkan dalam skala besar karena dianggap masih menganut dogma yang tertanam dari kecil.

Peran wanita di abad 21 harus ditumbuh kembangkan dengan berbagai penempatan strategis, cerdas, kreatif dan aktual. Hal ini untuk memberikan kedudukan wanita merata dengan status sosial lainnya, emansipasi wanita beberapa kali dilakukan di Indonesia dengan Pemerintahan Kota Bandung sebesar 30% lebih peran wanita berperan dalam instansi pemerintahan. Hal itu menunjukkan untuk bisa mewujudkan tatanan wanitia setara dengan laki-laki tanpa menghilangkan kodrat dari seorang wanita.(RED)