Rahardjo Djali Resmi Dikukuhkan Sebagai Polmak Sultan Sepuh XV Keraton Kasepuhan Cirebon

Teropongpost, Kota Cirebon, –Rahardjo Djali salah satu garis keturunan dari Sultan Sepuh XI Radja Jamaludin Aluda Tajul Arifin resmi dikukuhkan sebagai Polmak (Orang yang diberikan kuasa) atau Pjs (Pejabat sementara) Sultan Sepuh XV Keraton Kasepuhan Keraton Cirebon Jawa Barat.

Pengukuhan tersebut pun dilaksanakan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon Oleh seorang kyai dan dihadiri keluarga besar yang masih memiliki garis keturunan dari Sultan Sepuh XI Radja Jamaludin Aluda Tajul Arifin, tepatnya Jl. Kasepuhan, Komplek Kesepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat. Senin, (10/8/2020).

Seperti pemberitan sebelumnya, Polemik perebutan takhta Sultan Sepuh itu mencuat setelah viralnya video penggembokan ruangan Arum Keraton Kasepuhan Cirebon yang dilakukan Rahardjo Djali. Sebelum Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat wafat, saat itu Arief masih menjalani perawatan di rumah sakit pada akhir Juni lalu.

Diketahui, Rahardjo Djali merupakan salah satu orang yang berani menggembok ruangan Arum Keraton Kasepuhan Cirebon. Karena ia menilai, dirinya pun berhak dilibatkan dalam proses peralihan kekuasaan.

Rahardjo menjelaskan, Pengukuhan dirinya sebagai polmak untuk mengisi kekosongan jabatan Sultan Keraton Kasepuhan, setelah mangkatnya Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat.

Kemudian, digelarnya tradisi pengukuhan polmah itu dilakukan sebagai jawaban atas penolakan penganugerahan jabatan Putra Mahkota Keraton Kasepuhan kepada PRA Luqman Zulkaedin, anak dari almarhum PRA Arief Natadiningrat. “Sejauh ini penganugerahan putra mahkota Pangeran PRA Lukman Zulkaedin tidak sah. Karena sudah melenceng jauh dari kebiasaan tradisi yang sudah ditempuh para pendahulu di Keraton Kasepuhan,” ungkap Rahardjo dihadapan awak media. Kamis, (06/8/2020).

Rahardjo mengatakan proses pengukuhannya sebagai polmah telah mendapatkan persetujuan dari keluarga besar keturunan dari Sultan Sepuh Sultan Sepuh XI Radja Jamaludin Aluda Tajul Arifin.

Selain itu, Rahardjo pun mengaku mendapatkan dukungan dari sejumlah pondok pesantren (ponpes) diwilayah Cirebon, salah satu diantaranya adalah Pondok Buntet, Ponpes Gedongan, Bendakerep dan lainnya.

Rahardjo sadar akan konsekuensinya tentang proses pengukuhan polmah. Ia mengaku siap meladeni perlawanan atau penolakan dari keluarga almarhum Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat.

“Kami tetap mengapresiasi jasa-jasa almarhum selama beliau menjabat sebagai Sultan Sepuh XIV,” kata Rahardjo.

Rahardjo menambahkan jabatannya sebagai polmah selesai hingga proses jumenengan atau penobatan Sultan Sepuh XV. “Jabatan saya berakhir sampai keluarga besar menentukan (sultan) yang definitif. Saya belum menentukan ini. Kami sebetulnya sudah berusaha berkomunikasi dengan Arief, saat dia masih duduk di Keraton Kasepuhan. Tapi komunikasi itu buntu. Kami tetap mengapresiasi jasa-jasanya,” Jelasnya

Dia menegaskan pihaknya menolak penganugerahan PRA Luqman Zulkaedin sebagai putra mahkota. Rahardjo akan fokus mengurus proses penunjukan sultan secara definitif. Rahardjo meyakini pengukuhannya sebagai polmah tak melenceng dari tradisi.

“Pengukuhan ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Seperti yang dilakukan Pangeran Cakrabuana saat menurunkan tahktanya, tidak seperti kepada putra sulungnya, tetapi kepada keponakannya Syekh Syarif Hidayatullah. Dinyatakan lebih mampu untuk memimpin dibandingkan putra sulungnya,” Ujar Rahardjo

Di tempat yang sama, Filolog Raffan S Hasyim menerangkan penunjukan polmah pernah terjadi pada zaman dulu. Menurut filolog yang akrab disapa Opan itu mengatakan Rahardjo tetap sah sebagai polmah. Alasannya, Rahardjo memiliki garis keturunan dari Sultan Sepuh XI.
“Ya sebagai polmah. Bukan sebagai Sultan Sepuh,” kata Opan seusai pengukuhan polmah.

“Beliau masih ada garis keturunan dari perempuan. Dari laki-lakinya (Rahardjo) itu keturunan Kiai Djali, kemudian ke Kiai Pegambiran, terus sampai ke silsilah atasnya, saya tak begitu hafal. Terus ke atasnya ke Pangeran Sindang Garuda hingga ke Sunan Gunung Jati,” Tutupnya. (Dedi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.