Sudah Seharusnya Jepang bergabung dalam aliansi “Five Eyes” untuk menangani Agresifitas Cina

Teropongpost, Jepang – Pada bulan September 2018 ada seorang sejarawan Amerika Serikat yang bernama Arthur Herman, ia menulis tentang sebuah artikel mengenai wacana “Sudah waktunya Jepang untuk bergabung dengan aliansi intelejen Five Eyes”

Jepang dan Jerman adalah negara yang di isu kan negara yang paling dekan dengan “Five Eyes” tersebut. Lima negara yang dimaksud “Five Eyes” tersebut adalan Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada dan Selandia Baru.

Jepang adalah negara yang digadang-gadang menjadi anggota penuh dari “Five Eyes” tersebut dengan mempertimbangkan teknologi dan komunikasinya yang sangat canggih.

Keuntungan yang didapat jepang apabila bergabung “Five Eyes” tersebut akan banyak mendapatkan keuntungan sebagai mitra intelijen mereka, serta dapat turut serta mempromosikan interoperabilitas militer mereka, membangun serta mendorong kekuatan era digital.

Dibalik semua itu, munculnya wacana tersebut adalah didasari pada keadaan Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya (POLEKSUSBUD) sekarang ini, dimana telah diketahui bersama bahwasannya setiap negara mulai merasa resah dengan era kebangkitan Cina.

Keresahan tersebut bukan hanya dirasakan oleh negara-negara tetangga Cina seperti Jepang, Korea dan negara-negara di Asia Tenggara, namun keresahan tersebut juga dirasakan oleh setiap negara diseluruh dunia.

Jika Jepang benar akan bergabung dengan Amerika selaku pimpinan aliansi tersebut, maka aliansi intelijen tersebut berubah nama menjadi “Six Eyes”. Banyak spekulasi yang bermunculan bahwa jika kerjasama tersebut dapat berubah menjadi sebuah Konfrontasi.

Namun semua wacana tersebut juga dianggap pragmatis oleh para pengamat hubungan internasional pasalnya belum beberapa lama ini masyarakat menyaksikan sendiri sikap ambiguitas Amerika Serikat terhadap Cina atau mungkin memang Amerika Serikat bermain dua kaki. Hal demikian banyak mengherankan banyak pengamat ketika para pejabat Washington berjabat tangan dengan Presiden Cina Xi Jin ping dan saling sapa beberapa menit untuk perdagangan yang menyangkut seputar seputar perang serta perbincangan tentang Huawei.

Sangat disesalkan sekali oleh para pengamat mengapa pertemuan tersebut tidak membahas mengenai “siapakah yang harus disalahkan atas kejadian Covid-19 ini”.

Selain Amerika Serikat, ternyata sikap Eropa juga ambigu terhadap terhadap Cina. Hal demikian dapat dilihat dari sikap negara-negara Uni Eropa yang bungkam terhadap permasalahan Geopolitik yang ada seorang membiarkan begitu saja dengan sifat Cina yang agresif di laut cina selatan, Hongkong, serta Uighurs.

Sikap negara-negara Eropa sangat berbeda sekali ketika dihadapkan pada hubungannya dengan cina yang menyangkut investasi, dan transfer teknologi 5G, tenaga nuklir serta kerjasama dibidang infrastruktur seperti transportasi, pelabuhan dan pembangunan daerah.

Lalu untuk apa aliansi “Five Eyes” atau “Six Eyes” terbentuk? Jawabannya memang memerlukan kecerdasan dan pengamatan yang mendalam mengenai hubungan antar negara tersebut.

Namun jika tujuan dari “Six Eyes” tersebut adalah untuk dapat mengimbangi serta menciptakan keamanan bersama dari sikap agresif cina, maka hal demikian patut diamati bersama.

Pengamatan tersebut dapat dilihat dari laporan berita mengenai masuknya kapal perang, kapal induk, alat pengebor, dan pesawat tempur dengan landasan pacunya yang masuk ke wilayah laut selatan yang diklam oleh cina sebagai “nine-dash line” atau di Indonesia populer dengan “9 garis putus-putus” 

Wilayah yang dimaksud dengan “nine-dash line” tersebut adalah wilayah yang melingkupi Kepulawan Paracel yang termasuk kedalam wilayah Vietnam dan Taiwan serta Kepulauan Spatly dan Laut natuna dimana Cina bersitegang dengan Filipina, Malaysia, Vietnam dan Brunei Darussalam.

Sekarang dapat disaksikan pertikaian yang terjadi antara Cina dengan India diperbatasan kedua negara tersebut di Lembah Galwan, Ladakh.

Sudah jelas semua sekarang ini, dapat kita lihat arah dari kebijakan Cina yang ingin sekali menjadi negara Adikuasa menggantikan Amerika Serikat yang sudah terlalu lama mendominasi dunia.

Semua kejadian ini adalah perjanjian yang rusak, pelanggaran perbatasan yang tidak berkesudahan, kekayaan intelektual yang dicuri dan pembiaran yang sangat berani terhadap hak asasi manusia.” Pungkasnya.

Pembahasan mengenai sikap agresif Cina tertuju pada sebuah gagasan besar, yaitu Apa yang dunia butuhkan agar Cina tetap dapat mencapai kemakmurannya tanpa mencampuri dan mengganggu negara lain.

Dan untuk semua permasalahan tersebut kita membutuhkan perwakilan negara untuk dapat menjaga keamanan, aliansi “Five Eyes” yang akan berubah menjadi “Six Eyes” akan menjadi lebih kuat dalam mengemban tugas pengamanan tersebut.” Ungkapnya

Dikutip dari : Japan Times
( Iqbal Muhammad Syahid )

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.